apa benar bahwa bercerita adalah obat?

                       sumber foto : pinterest

Pernah ada satu postingan di sosial media Instagram seorang penulis yang tak sengaja muncul dilaman linimasiku, ia sangat aktif di sosial media untuk membranding karya-karyanya yang tulisannya sangat relevan dengan kenyataan hidup yang dialami manusia, kadang sedikit sarkas tapi itu fakta. Meski aku belum pernah membaca buku karangannya, namun yang bisa aku nilai daripada karyanya yang dikenalkan melalui sosial media tersebut banyak bagian-bagian ceritanya yang sangat menggambarkan  kehidupan.

Kalau tidak salah tulisannya seperti ini "mendengarkan adalah obat, bercerita juga obat. Betapa hebatnya satu kegiatan bisa mengobati dua orang sekaligus". Kalimat ini sangat menarik perhatianku, bagi seorang yang tidak banyak bercerita sepertiku barangkali masih mempertanyakan apakah hal itu memang benar adanya, ataukah ada kriteria lain untuk dapat menjadikan satu kegiatan itu agar bisa menjadi obat untuk dua orang sekaligus?.

Beberapa diantara orang barangkali mereka bukan tidak ingin bercerita, ada alasan mengapa selalu mengurungkan keinginannya untuk berbagi dengan seseorang, kesulitan untuk percaya, tidak mampu mengekspresikan perasaan, merasa hanya menambahkan beban pada seseorang karena ceritanya, atau barangkali alasan lain yang sering kita temui adalah karena merasa khawatir justru ceritanya malah menjadi ajang adu nasib, sehingga bukannya bercerita menjadi obat, justru dengan bercerita mereka merasa lebih dibuat tidak nyaman. 

Kadangkala seseorang bercerita bukan karena sedang mencari solusi, atau ingin diberi nasihat, mereka hanya ingin ada seseorang yang mendengarkan dan tahu betapa ia butuh untuk mengeluarkan emosi dan perasaannya tersebut. Pada akhirnya alasan seseorang belum ingin bercerita adalah karena ia belum menemukan pendengar yang ia percayai, belum siap mempercayakan sisi lain yang ia sembunyikan selama ini kepada orang lain. Sebab untuk bisa terbuka dan bercerita itu membutuhkan keberanian, begitu juga untuk menjadi pendengar butuh perasaan kasih sayang dan memiliki sikap yang objektif.

Baru-baru ini aku mulai mempertimbangkan, dan menyadari betapa bercerita memiliki kekuatan besar bagi seseorang jika memang cerita tersebut sampai pada telinga yang tepat, namun tidak menjadi obat jika justru ceritanya hanya dibalas dengan nasihat yang  memojokkan sipencerita. Maka untuk bisa menjadi obat, satu kegiatan itu dibutuhkan dua orang yang mau dan mampu memahami, memposisikan diri, dan melihat situasi dari berbagai sudut pandang.

Aku sendiri selalu senang ketika melihat dan mendengarkan seseorang bercerita, entah alasannya apa, tapi menurutku untuk bisa melakukan hal itu butuh keberanian dan mereka yang melakukannya adalah orang yang berani untuk percaya pada orang lain dan tidak semua orang bisa melakukannya.

Komentar

Postingan Populer