bukan berakhir, tapi berganti

Sumber foto: pinterest 



**
Yang menarik dari sebuah perpisahan adalah, bahwa kita sering mengesampingkan  kesadaran diri tentang memahami bahwa kita tidak bisa menyebut selamanya pada sesuatu yang sedang berlangsung.  Meskipun pada dasarnya kita menyadari dengan penuh bahwa tidak ada yang benar-benar menetap dalam sebuah siklus kehidupan, beberapa akan tinggal lebih lama namun bukan untuk selalu ada, beberapa lainnya hanya sekejap rasa, kemudian semuanya berlalu dan berganti apapun itu.

Seperti malam yang akan selalu tunduk pada bulan, dan matahari meliputi siang, mereka tidak pernah meninggalkan, selalu bertemu diwaktu yang sama dan berpisah diwaktu lainnya. Manusia menganggap hubungannya dengan sesuatu atau manusia lain seperti matahari, seperti bulan dan alam. Terlepas dari ketersadaran itu, ada hal-hal yang selalu bertolak belakang dengannya, ada satu hal dimana kita tidak akan bisa menolak adalah perasaan kehilangan. 

Tidak ada yang benar-benar belajar tentang kehilangan, tidak ada yang benar-benar mahir tentang bab kehilangan, tentang melepaskan keterikatan dan cara penerimaan yang baik. Pada akhirnya kita hanya perlu waktu untuk menjadi biasa, pada sesuatu yang sempat amat melekat, pada sesuatu yang tak pernah terpikirkan akan berakhir. 

Dibeberapa perjalanan, juga tidak sedikit orang mampu melepaskan keterikatan dengan mudah disebabkan beberapa alasan, namun ada beberapa orang yang butuh waktu dan kesempatan panjang untuk bisa lepas dari kemelekatan atas sesuatu atau seseorang tersebut. Tidak ada yang salah dengan semua itu, itu adalah natural yang biasa dirasakan oleh makhluk yang berakal dan berperasaan, setidaknya begitulah pendapatku.

Manusia selalu arogan menganggap segala yang ada dalam lingkarannya adalah sudah menjadi miliknya, rasa kepemilikan dan kemelekatan yang pada akhirnya menjadikan ranjau bagi manusia yang telah lupa dan mengabaikan kepemilikan yang hakiki. 
Menjadikan sesuatu dan atau seseorang teramat berharga membuat manusia justru salah kaprah, keberhargaan dan kempemilikan membuat manusia menjadi kikir untuk melepas sesuatu yang tak sepenuhnya milik mereka.

Atau barangkali bukan karena kekikiran untuk dapat melepas sesuatu dengan mudah, melainkan karena keterbiasaan terhadapnya. Aku tidak begitu yakin tentang hal ini, tapi bagi kebanyakan orang, sendirian setelah selalu bersama membuat segalanya terasa aneh dan menakutkan. Lagi-lagi sebab kita belum terbiasa dengan perubahan kondisi itu.

Pada akhirnya, tidak ada kesimpulan khusus dan jawaban yang melegakan, apapun itu sebetulnya kita hanya perlu waktu untuk terlepas dengan baik, perlu waktu untuk melepas dengan ikhlas. Dan penerimaan yang utuh butuh hati dan logika yang tak keras bahwa segalanya harus lekas, bahwa segalanya harus selaras.

Betul bahwa kadang kita hanya perlu berkata "yasudahlah, mau bagaimana lagi" sebagai jawaban terakhir. Hingga masanya tiba kita hanya akan berkata dengan lantang, atau mungkin dalam hati "oh maksudnya Tuhan begini" dan ada rasa syukur yang lahir, meski terkesan sangat terlambat. Memang kadang Tuhan ingin kita mengelola segalanya terlebih dahulu untuk memahami dan belajar tentang penerimaan hidup.

Komentar

Postingan Populer