perempuan itu Praya: prolog
Praya namanya, tapi aku tidak ingat apa yang pernah tertulis semalam, tidak ada jalan keluar dan yang paling masuk akal adalah menulis ulang ceritanya dari awal tentang sesuatu yang menarik dari kehidupan manusia, namun menurutku segala hal yang terhubung dengan manusia selalu menarik untuk dikisahkan. Tapi barangkali ceritaku agak membosankan.
****
Pukul delapan malam, masih dalam perjalanan pulang menuju rumah dalam sebuah bus kota yang masih ramai, angin menari meliuk, semilirnya berarak lewat jendela, sebuah lagu siap diputar menemani perjalanan Praya. Lagu lama milik Iksan Skuter menjadi pilihannya, tiba-tiba ia merindukan sesuatu dari lagu itu.
Dimanakah engkau berada sahabat lama yang kutunggu
Telah lama tak ada kabar darimu sahabat lama ku
Aku rindu saat-saat kita lewati panjangnya malam
Menghisap rokok nikmati kopi bicara tentang cinta dan mati
Aku rindu semuanya
Aku rindu semuanya
Sahabatku.....
Lagu yang seharusnya menyenangkan untuk didengar, justru mengusik pikirannya selama perjalanan. Jalan menuju rumah masih jauh, jalanan macet dibeberapa titik. Ia teringat sesuatu dari masa lalu. Lagu itu adalah lagu yang sering ia nyanyikan bersama teman-temannya ketika masih berkuliah. Yang sering menjadi playlist ketika bersenandung sebari memainkan alat musik bersama seseorang lainnya.
Ia Kembali membuka ponsel mencari sebuah nama dalam akun Instagram, beberapa nama ia ketik untuk mengintip laman linimasi dari masing-masing mereka. Nama yang sangat akrab, sahabat lama yang sudah hilang kabar sejak tali toga dipindahkan. Beberapa masih aktif di sosial media, tapi tentu tak pernah saling sapa, hanya sebatas menonton postingan-postingan yang barangkali tidak selalu benar, sedikit dibumbui keberlebih-lebihan.
Beberapa lainnya tak bisa dilihat, akhir-akhir ini orang-orang menjadi sangat penuh misteri, tidak ada informasi apapun yang didapatnya dari sosial media. Barangkali kawan lamanya tidak aktif berselancar didunia Maya. Lebih banyak postingan lama, hanya Praya sendiri yang tidak memiliki banyak kenangan yang dibagikan diakun sosial medianya itu, instagramnya tidak ada unggahan apapun, semua telah menjadi arsip hanya ia yang bisa sesekali melihatnya jika tiba-tiba rindu masa-masa itu.
Ia masih sering melarikan diri, bersembunyi dari banyak hal, sulit ditemukan dan dihubungi, sampai ia memutuskan untuk pindah ke kota ini, menjalani kehidupan baru memulai semua dari awal, sendirian tidak bersama siapapun, tidak diketahui siapapun. Tapi belakangan ini ingatannya kembali pulang pada halaman cerita lama bertahun-tahun lalu. Ternyata pergi sejauh apapun tidak membuatnya lupa terhadap kisah lama itu.
Seuntai nama kini ia ketik dalam mesin pencarian, muncul satu akun yang ia kenali, kini mereka tidak lagi saling mengikuti, sejak kejadian waktu silam ia memutuskan untuk memblokir akun sosial media seorang tersebut. Sebuah lagu mengantarkannya pada satu wajah yang erat dengan lagu itu, akunnya tidak dikunci, siapapun bisa dengan bebas keluar masuk menengok beranda seorang laki-laki yang lebih tua beberapa tahun darinya.
Melihat foto-foto yang dipamerkannya ternyata masih memberi pengaruh pada dirinya, tak ada foto siapapun pada Instagram lelaki itu selain wajahnya disana, tak ada yang menarik bukan itu yang Praya harapkan. Memang tidak semua harus ditampilkan dimedia sosial, barangkali ada wajah lain yang disembunyikan oleh Lelaki tersebut, tidak diketahui oleh siapapun bahkan Praya yang telah jauh keberadaannya dari seseorang itu.
Semua orang telah menjalani hidup baru, sebagian besar masih melanjutkan perjalanan yang sama sejak lama. Begitu juga sosok Lelaki di ponselnya kini, terlihat hidupnya jauh lebih baik sebelum terakhir ia bertemu dengan wajah kusut dan rambut berantakan, seingatnya saat itu ia tak sempat mandi untuk menemui Praya jauh-jauh ia datang, setelah itu tidak ada lagi pertemuan dan saling sapa, kini hidupnya terlihat jauh lebih tertata begitulah simpul sederhana yang Praya ambil dari apa yang ia lihat dalam layar ponselnya kini. Praya bersyukur dalam hati, bahwa ia hidup dengan baik berhasil melewati gelombang besar kehidupannya, Praya sempat berada disana bersama seorang tersebut dalam waktu yang cukup lama. Sebetulnya ada bentuk perasaan lain setelah itu, ia menampiknya, mencoba tidak lagi terpengaruh atas apa yang ia lihat. Ia belum melepaskan dengan baik, begitu ia mengakuinya dalam hati.
Praya sosok perempuan sederhana, seorang yang dicintai oleh banyak orang, pribadi yang menyenangkan demikian ia dilihat oleh orang kebanyakan yang mengenalnya. Ia ramai dan mampu mencairkan suasana, ia sosok yang hangat dan penuh percaya diri sebetulnya hal itu masih ia miliki hingga kini. Hanya tak banyak ia tampilkan sekarang ini, beberapa hal juga berubah darinya, keadaan merubahnya menjadi figur yang lebih pendiam sebab tidak lagi ia temui teman berbincang.
Hidupnya hanya penuh soal pekerjaan, ia menolak lekat dengan rekan kerja sebab nanti ia tak bisa memberi batasan antara kehidupan pribadi dan profesionalnya dalam bekerja. Ia tak banyak bercerita tentang kehidupan pribadi sementara yang lain sejak pagi sudah bercerita sarapan apa hari ini, ia hanya mendengarkan sesekali tertawa dan menimpali jika perlu. Memiliki batasan bukan berarti menjadi asing dalam sebuah lingkungan, artinya ia hanya harus bersikap sewajarnya dalam sebuah lingkungan kerja, tidak menjadikan lingkungan kerja juga sebagai lingkungan bermain, demikian Praya berfikir. Meski hal itu tidak tahu apakah bisa dibenarkan atau keliru, ia hanya meyakini apa yang ada didalam hatinya.
Sejak dulu ia lebih berhasil mengikuti intuisinya yang sering tepat. Makannya ketika berkuliah dulu ia banyak dimintai pendapat tentang beberapa hal oleh teman-temannya, seperti cenayang ia mampu meramal apa yang akan terjadi, dan hal itu benar terjadi, tentu itu hanya sebuah kebetulan. Praya bukan cenayang sungguhan, ia hanya menggunakan logika dan kemampuan analisisnya saja dalam membaca sesuatu.
Tidak ada yang tau bagiamana kehidupan Praya diluar jam kerja, beberapa rekan kerjanya hanya bertanya-tanya apa yang biasa Praya lakukan selepas bekerja atau di akhir pekan, ia tidak bercerita apapun, ia tidak pernah membahas apapun tentang dirinya selain daripada pekerjaan, ia seperti sebuah misteri, itu juga yang membuatnya sering merasa sepi.
Selepas keputusan melanjutkan hidup masing-masing, Praya dan beberapa sahabat dekatnya telah jauh menjelajahi kehidupan, kadang tak sempat meski hanya bertanya kabar. Beberapa lainnya telah menikah, memiliki anak, memulai bisnis dan menjadi pekerja yang digaji seperti yang Praya lakukan. Sekilas tak ada yang istimewa darinya, sama seperti kebanyakan orang.
Ia hanya sesekali pergi ke kedai kopi untuk mengisap sebatang kretek dan menikmati segelas kopi yang tidak bisa ia nikmati ditempat kerja. Tentu ia pergi sendirian, hidupnya terlihat kesepian tanpa berteman dengan banyak orang. Ia penuh dengan menjaga citra diri, sebab dilingkungannya seorang perempuan yang merokok masih dianggap sebagai perempuan yang buruk, dan teman-teman perempuan dilingkungan kerjanya tidak ada yang merokok selain dirinya, ia juga tidak tertarik untuk menghisap kretek bersama rekan kerja laki-lakinya, sebab mereka lebih cerewet dan banyak bicara daripada perempuan. Kita semua tahu perempuan dimasyarakat umum selalu diasosiasikan sebagai makhluk yang banyak bicara dan suka bergosip, entah apa itu benar atau tidak aku tidak pernah mencoba mencari tahu.
Lama terhanyut dalam nostalgia dan meromantisasi masa lalu, ia menutup Instagram miliknya, tidak baik berlama-lama berselancar didunia maya baginya begitu. Lagu sudah berganti, beberapa kenangan sudah selesai dilewati, tapi pikirannya masih tertinggal jauh disana, ah memang kenangan kadangkala brengsek bisa datang lewat pintu mana saja, bisa hadir lewat lagu, wangi kopi, aroma parfum dan segala yang bisa dirasa dan bisa dilihat, kenangan terselip disegala hal. Ia merindukan kawan-kawan lamanya, ia merindukan seorang lain yang juga datang dari masa lalu.
Dikemacetan kota, matanya tertarik pada sebuah tempat, ditengah-tengah keramaian tempat itu yang cukup sepi, sedikit pengunjung ia tertarik pada sesuatu yang ia lihat, seperti sebuah Dejavu. Bangunan dan warna nyala lampunya seperti tempat yang sering ia kunjungi tempat itu memiliki kesamaan dengan tempat ditanah kelahirannya, ia gemar mengunjungi warung kopi dengan design dan tema seperti itu bersama seseorang atau sendirian. Tidak berpikir panjang ia turun ditengah kemacetan mobil-mobil yang berbaris dengan kegelisahan ingin segera sampai, Ia berhasil melewati jalan dengan gesit mendekati tempat itu.
Ting.....
Bunyi bel yang berada diatas pintu berbunyi setiap kali pintu dibuka atau ditutup. Aroma seduhan kopi memenuhi seisi tempat itu. Hanya ada beberapa pengunjung, ini kabar baik bagi Praya. Ia mendatangi meja kasir untuk memesan segelas kopi cold brew dingin, ia memilih tempat duduk yang paling menyenangkan untuk menikmati kopi, menghadap kaca agar bisa melihat kendaraan dan orang-orang hilir mudik. Sebuah lagu indie sedang diputar memenuhi langit-langit kafe. Kembali ia mengingat sesuatu, ia selalu berharap bisa menikmati waktu yang menyenangkan ini bersama seorang itu, ini juga sama tempat favoritnya.
Mereka selalu menyukai hal yang sama, perpisahan mereka tidak membuat Praya berhenti menyukai hal-hal tersebut, ia menyukai segalanya jauh sebelum mengenal lelaki itu, sampai hari ini tidak ingin berhenti menyukai hal-hal yang menyenangkannya hanya karena itu pernah menjadi kenangan buruk, sejujurnya itu tidak selalu buruk. Bukan meromantisasi kenangan, ia hanya tidak ingin menjadikan seseorang sebagai alasannya untuk melupakan sesuatu, untuk melepaskan sesuatu yang ia sukai, ia tidak mendasari perpisahan sebagai alasannya untuk melepaskan diri dari hal-hal yang ia senangi, dari hobi-hobi yang ia jalani.
Seorang waiters mengantarkan pesanannya, ia menyapa Praya menanyakan apakah ia sendirian, Praya hanya tersenyum simpul dan berkata iya, mereka berkenalan dan tidak terasa berbincang lama. Satu teman baru setelah lama ia hidup di perantauan, rasanya menyenangkan memiliki teman diluar tempat kerja. Sejak hari itu ia memutuskan untuk lebih sering datang kesana.
Ting...
Pintu cafe kembali terbuka, seseorang masuk, waiters yang bersamanya tadi melambaikan tangan, ah mereka saling kenal. Tubuh itu mendekat aromanya tak asing bagi indera penciuman Praya, fikirnya tidak mungkin orang itu adalah yang ia kenal juga, siapapun bisa memiliki parfum dengan aroma seperti ini. Praya menoleh dan wajah itu adalah wajah lama yang tidak terlihat beberapa tahun terakhir. Kehidupan memang menarik, bisa mendatangkan dan menjauhkan siapapun dengan mudah, seperti ada sebuah magnet dalam diri setiap manusia yang bisa saling menarik satu sama lain. Bisa menemukan sejauh apapun jarak yang melintang. Praya tersenyum kecut, sementara wajah yang masih berdiri itu tersenyum lebar, seperti menemukan sebuah benda yang lama ia cari.
***
Bersambung.....
Sumber foto: pinterest
Komentar
Posting Komentar